Loading...
Loading...
Aku mematung di bawah jendela mereka dan mendengar semuanya. 'Apa Verona mau melakukan ini untukmu?' Terdengar erangan pelan dari pria di atas. Dia mencengkeram dagu wanita itu dan mengancam pelan. 'Talia, kalau kau sampai membiarkan Verona tahu, kau akan menyesal.' Talia hanya tertawa dan membungkamnya dengan ciuman. 'Kalau memang begitu, aku tidak peduli.' Melalui jendela yang terang, bayangan mereka tampak saling membelit. Talia adalah orang yang memimpin perundunganku waktu SMP. Bertahun-tahun aku bolak-balik ke dokter dan minum obat. Tiga tahun itu adalah titik terendah dalam hidupku. Dia memfitnahku hingga aku harus pindah sekolah. Namun, aku tak pernah benar-benar lepas darinya. 'Verona Baker, namamu sangat cantik. Aku sungguh berpikir untuk membangun masa depan denganmu.' Waktu SMA, Brennan, teman sebangkuku, yang menarikku keluar dari kegelapan itu. Dia selalu muncul tepat saat aku hampir hancur. Dan sekarang, gadis yang kukira takkan pernah kulihat lagi ada di ranjang bersama pacarku. Aku berdiri gemetar, tanganku mengepal erat sampai kukuku melukai telapak tanganku. 'Kau yang merundung Verona waktu SMA, kan?' 'Sebaiknya kau jaga sikap di universitas.' 'Kalau Verona bilang kau menyentuhnya, akan kutunjukkan rasanya jadi korban.' Aku terdiam kaku. Jadi, Brennan tahu. Dia sangat tahu siapa Talia, tapi tetap tidur dengannya. Udara malam sangat dingin, angin menusuk tulangku. Di lantai atas, suara mereka tak kunjung berhenti. Aku berdiri di tanah yang membeku, merasakan kehampaan di tempat hatiku dulu berada.